8

Pindah ke Arch Linux

Kamis, 27 Agustus 2009. Kategori : LinuxQR Code

Mumpung baru ganti paket Speedy (artikel terkait) gw pengen nyari distro yang cocok selain keluarga Slackware (PC pake Slackware current & notebook pake Zenwalk 6.2 beta), karena biasanya distro Linux tu gw download kecuali yang sudah Gigaan (DVD).

Ada beberapa kandidat dimana mereka mempunyai kesamaan yaitu menyertakan Xfce sebagai desktop environtment dan ukuran distribusinya kecil.
Setelah lama mencari dan mendownload beberapa ISO akhirnya pilihan jatuh kepada Arch Linux (kandidat kuat lainnya adalah SAM Linux).

Beberapa alasan kenapa gw milih Arch :

  1. Dioptimalisasi untuk arsitektur i686 dan x86_64
  2. Model distribusi 'kosongan' (mirip Gentoo tapi sudah berbentuk binari)
  3. Menggunakan sistem init seperti Slackware (BSD style)
  4. Simpel dan mudah dipakai (umm.. bagi yang biasa make non-gui default distro)
  5. Punya aplikasi manajemen paket yang bagus (namanya PacMan, Package Management)
  6. Menyediakan aplikasi-aplikasi berlimpah, termasuk yang close-source (seperti driver Nvidia misalnya)
  7. Cepat dan ringan
  8. Bleeding edge style
  9. Dokumentasinya sangat baik (online)

Dari alasan-alasan diatas yang paling gw suka dari Arch adalah Package Management (pacman) mereka yang sangat bagus, mirip apt-getnya Debian. Jadi si pacman bisa mencari dependency yang diperlukan (wajib lah ya..?!), mencari paket yang bentrok dengan paket yang akan diinstall, dan menginstall serta mengkonfigurasi setingan.

Jadi misalnya tak kasih perintah pacman -S xfce4 maka otomatis segala keperluan yang dibutuhkan Xfce dipenuhi lalu kita akan diberi tahu berapa besar paket yang akan didownload, tekan enter dan selesai.

Oiya, karena distribusinya 'kosongan' jadi kita harus siap meluangkan waktu (dan bandwidth) cukup banyak hingga Arch siap digunakan seperti OS desktop pada umumnya. Bagusnya ada repository dari Indonesia yaitu kepunyaan Universitas Jember (UGM mana neeeh?!) yang sangat membantu mempersingkat waktu download.

Lain kali gw posting gimana jadinya si Arch, sekarang masih menunggu download aplikasi-aplikasi selesai... Lah artikel ini aja gw posting via Links-nya Arch.. Eehehe..

8 Komentar

  • GravatardaniSenin, 31 Agustus 2009

    yah gentoo saya malah ketiban opensuse gara-gara installer-nya teramat sangat nyaman.. Grin
    arch emang mirip gentoo. praktis--otomatis dependency seperti gentoo, tapi juga bercita rasa geek ala slackware. Smile

    back to opensuse dulu ah. berharap zypper makin sempurna untuk upgrade distro ala gentoo.

  • GravatarjenggoSenin, 31 Agustus 2009

    arch emang mirip gentoo. praktis--otomatis dependency seperti gentoo, tapi juga bercita rasa geek ala slackware.

    ini dia alasan penting yang bikin ga bisa tidur sebelum arch terinstall.. hahaha..
    tadinya sih mo pake gentoo tapi pas ngeliat arch batal deh.. Wink

    wah wah,, bisa nyari dvdnya opensuse juga nih, jadi pengen.. Grin

  • GravatardaniRabu, 30 Desember 2009

    saya akhirnya pake arch. ikhlas dah melepas gentoo. mungkin alasan "lama waktu compile" yang membedakan cita rasanya. Smile btw, teks di input form komentar jenggo.net terlalu kecil.

  • GravatarjenggoRabu, 30 Desember 2009

    aseek ada temen.. haha.. wah, sayang juga hasil gentoo-nya dibuang.. ups, iya yah.. baru tau juga pas nge-reply.. haha.. thanks report-nya..

  • GravatardaniSabtu, 2 Januari 2010

    yang gentoo itu sih terbuang..sempat nyesel juga awalnya--ngga sengaja
    soalnya. mungkin karena lama ngga fresh install. Grin

    btw, ukuran font 'tulis komentar' kayaknya terlalu besar (111px)?